Purbaya Optimistis Ekonomi RI Tumbuh Tinggi pada 2026 di Tengah Ketidakpastian Global
Pajak.com, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme bahwa perekonomian Indonesia tetap mampu tumbuh tinggi pada 2026 meskipun dihadapkan pada ketidakpastian global, dengan mengandalkan kuatnya permintaan domestik sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Adapun, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,4 persen pada 2026.
Purbaya menilai tekanan global tidak menjadi faktor dominan bagi kinerja ekonomi nasional. Menurutnya, struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat bertumpu pada permintaan domestik, sehingga gejolak global tidak seharusnya dijadikan alasan atas perlambatan ekonomi dalam negeri.
Ia menjelaskan bahwa sekitar 90 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh permintaan domestik, sementara kontribusi dari faktor global relatif kecil. Dengan struktur tersebut, perekonomian nasional dinilai tetap memiliki ruang tumbuh yang kuat.
“Kalau kita 90 persen domestic demand, 10 persen global atau lebih. Mungkin maksimal 15 hingga 20 persen. Kalau kita juga ada domestic demand, harusnya tidak ada masalah,” ujar Purbaya pada Acara Indonesia Fiscal Forum 2026 di Thamrine Nine Ballroom, dikutip Pajak.com pada Selasa (27/1/26).
Dari sisi kondisi domestik, Purbaya menilai situasi ekonomi Indonesia masih cukup solid. Inflasi berada pada level rendah, yakni sekitar 2,9 persen, dengan inflasi inti di kisaran 2,3 persen. Bahkan, apabila komponen harga emas dikeluarkan, inflasi diperkirakan hanya sekitar 1,5 persen.
Rendahnya inflasi tersebut menunjukkan bahwa tekanan permintaan masih terbatas dan belum menimbulkan risiko overheating ekonomi. Kondisi ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi tanpa harus khawatir terhadap lonjakan suku bunga.
“Jadi sebetulnya demand-nya masih relatif rendah. Belum ada demand core inflation, artinya saya bisa mendorong ekonomi ke tingkat yang lebih cepat lagi tanpa khawatir adanya kenaikan bunga yang terlalu signifikan dari Bank Sentral atau karena inflasi naik dan Bank Sentral ingin memperlambat lagi,” jelas Purbaya.
Purbaya juga menyoroti kinerja pertumbuhan ekonomi nasional yang dalam beberapa kuartal terakhir berada di kisaran 5,0 hingga 5,4 persen. Ia menilai capaian tersebut menunjukkan tren yang cukup konsisten dan masih menyisakan ruang untuk akselerasi pertumbuhan.
Untuk menjaga momentum tersebut, pemerintah mengandalkan strategi debottlenecking guna memperbaiki iklim investasi. Melalui forum lintas kementerian yang digelar secara rutin, berbagai hambatan usaha yang dihadapi pelaku bisnis diupayakan dapat diselesaikan dengan cepat dan terukur.
Selain itu, pemerintah juga berupaya memperkuat kinerja fiskal melalui optimalisasi penerimaan pajak dan bea cukai, serta menjaga defisit anggaran tetap terkendali. Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah dinamika global.
Dengan berbagai upaya tersebut, Purbaya menegaskan keyakinannya terhadap prospek ekonomi nasional dan pasar keuangan domestik pada tahun ini.
“Saya optimistis untuk ekonomi dan pasar saham tahun ini. Anda semua jangan tunggu-tunggu lagi untuk berinvestasi atau melebarkan ekspansi bisnis Anda,” pungkasnya.

