SMF Kantongi Laba Bersih Rp565 Miliar, Pendapatan Rp3,103 Triliun pada 2025
Pajak.com, Jakarta – PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau mencatatkan laba bersih sebesar Rp565 miliar dan pendapatan Rp3,103 triliun sepanjang tahun 2025. Realisasi laba bersih dan pendapatan tersebut lebih tinggi dibanding dengan capaian pada 2024 yang tercatat masing-masing sebesar Rp540 miliar dan Rp2.868 triliun.
Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo menjelaskan bahwa di tengah dinamika ekonomi dan kondisi likuiditas perbankan yang masih baik, perseroan tetap berhasil menjaga kinerja keuangan. Bahkan pasca-COVID-19, kinerja keuangan perusahaan terus menunjukkan tren pertumbuhan.
“Di tengah tantangan ekonomi dan likuiditas perbankan juga masih baik tapi perseroan tetap berhasil menjaga kinerja keuangannya di masa COVID-19. Kinerja keuangan perseroan terus tumbuh,” ujar Ananta dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com pada Kamis (5/3/2026).
Lebih rinci, Ananta memaparkan bahwa total aset SMF meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir. Pada 2021, aset tercatat sebesar Rp33,727 triliun dan terus tumbuh menjadi Rp66,814 triliun pada 2025. Sementara liabilitas meningkat dari Rp19,706 triliun pada 2021 menjadi Rp39,088 triliun pada 2025.
Ekuitas perseroan juga mengalami kenaikan solid, dari Rp14,021 triliun pada 2021 menjadi Rp27,726 triliun pada 2025. Dengan posisi tersebut, rasio debt to equity ratio (DER) berada di level 1,69 kali atau sekitar 1,9 kali, masih jauh di bawah batas maksimum perusahaan pembiayaan sebesar 10 kali.
“Ekuiti kita masih di bawah 2, jadi masih banyak ruangan untuk kita menambah utang lagi ya Karena maksimum dan ekuiti daripada perusahaan pembiayaan adalah 10 kali,” jelasnya.
Kemudian, pendapatan SMF terus meningkat dari Rp2,124 triliun pada 2021 menjadi Rp3,103 triliun pada 2025. Jika dibandingkan 2024 yang sebesar Rp2,869 triliun, pendapatan 2025 mencatat pertumbuhan yang kuat.
Beban, pajak, dan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) juga meningkat seiring dengan aktivitas usaha, dari Rp2,329 triliun pada 2024 menjadi Rp2,537 triliun pada 2025. Sementara laba bersih tercatat Rp565 miliar pada 2025, meningkat dibandingkan 2024 sebesar Rp540 miliar.
Secara historis, laba bersih SMF tercatat Rp460 miliar pada 2021, Rp418 miliar pada 2022, Rp466 miliar pada 2023, Rp540 miliar pada 2024, dan Rp565 miliar pada 2025.
Dari sisi rasio keuangan, kinerja SMF tetap terjaga dengan ROA sebesar 0,85 persen, ROE 2,68 persen, DER 1,69 kali, profit margin 18,05 persen, serta BOPO operasional 7,23 persen. Efisiensi operasional tersebut menunjukkan fundamental bisnis yang kuat.
Ananta menegaskan bahwa pertumbuhan tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis SMF yang berbasis tata kelola dan manajemen risiko yang kuat.
Ke depan, SMF akan terus mengoptimalkan peran strategisnya melalui berbagai inisiatif, antara lain sosialisasi surat utang SMF sebagai underlying instrumen Repo Bank Indonesia untuk memperkuat likuiditas pasar, optimalisasi peran SMF Research Institute (SRI) dalam mendukung kebijakan sektor perumahan, serta penyediaan dana jangka panjang melalui inovasi produk keuangan berkelanjutan.
“Pada tahun 2026, kami akan terus mengakselerasi peran strategis SMF dalam membangun sektor pembiayaan perumahan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan, sejalan dengan program Pemerintah untuk memastikan akses hunian yang layak bagi seluruh masyarakat Indonesia,” pungkas Ananta.

