Kilang Mini LNG dengan Investasi Rp247 Miliar di Pulau Jawa Resmi Beroperasi
Pajak.com, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa kilang mini Liquefied Natural Gas (LNG) pertama di Pulau Jawa dengan investasi mencapai Rp247 miliar telah resmi beroperasi.
Distribusi gas bumi kini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada jaringan pipa. Untuk pertama kalinya di Pulau Jawa, gas produksi dalam negeri dicairkan menjadi LNG dalam skala mini, sehingga penyalurannya menjadi lebih fleksibel bagi industri dan sektor ketenagalistrikan.
Peresmian Kilang Mini LNG PT Liquid Nusantara Gas yang berlokasi di Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Jawa Timur, dilakukan oleh Wakil Menteri ESDM Yuliot pada Rabu (11/2/26). Fasilitas ini menjadi kilang mini LNG pertama di Pulau Jawa dan diharapkan memperkuat pemanfaatan gas bumi domestik sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
“Ini merupakan momentum bagaimana kita bisa memanfaatkan gas produksi dalam negeri, dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk keperluan industri, pembangkit listrik, dan juga berbagai kegiatan ekonomi lain. Ke depan tidak tertutup kemungkinan pemanfaatan LNG melalui kilang mini ini didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia,” ujar Yuliot, dikutip Pajak.com pada (13/2/26).
Kilang Mini LNG tersebut memanfaatkan pasokan gas dari Wilayah Kerja Minyak dan Gas Madura Strait yang dikelola Husky-CNOOC Madura Limited (HCML). Gas kemudian diolah menjadi LNG agar lebih praktis dan efisien untuk didistribusikan ke pembangkit listrik, kawasan industri, serta pusat pertumbuhan ekonomi lainnya.
Proyek ini dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp247 miliar dan dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 20 ton LNG per hari atau hampir 7.000 ton per tahun. Pemerintah berharap fasilitas ini menjadi model pengembangan serupa di berbagai daerah penghasil gas bumi.
Dari sisi industri nasional, proyek ini mencatat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi.
“Dari pengembangan teknologi, mini LNG ini menggunakan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN yang cukup tinggi, sekitar 86 persen dari informasi yang kami terima. Jika dibandingkan dengan standar yang kita tetapkan sekitar 30 hingga 40 persen, capaian ini jauh di atas ketentuan. Tentu ini merupakan bagian dari kolaborasi teknologi. Tadi Mr Ambassador juga menyampaikan bahwa ini merupakan kolaborasi teknologi antara Indonesia dengan Galileo, perusahaan teknologi dari Argentina,” jelas Yuliot.
Di atas lahan seluas satu hektare, PT Liquid Nusantara Gas mengoperasikan unit modular cryobox. Direktur Utama PT Liquid Nusantara Gas Wira Rahardja mengungkapkan saat ini tersedia tiga mesin cryobox dari Galileo Technologies dan akan ditambah menjadi lima unit.
“Teknologi ini kami pilih karena paling tepat untuk mini LNG. Selain mudah dipindahkan, proses instalasi dan pengoperasiannya juga relatif cepat. Ke depan akan ada lima cryobox, dengan kapasitas produksi sekitar 2.500 ton LNG per bulan,” ujar Wira.
Adapun, teknologi cryobox memanfaatkan sistem Nano LNG Liquefaction, yakni kombinasi prinsip Joule-Thomson dengan loop refrigerant (propana) tertutup yang memungkinkan unit mulai memproduksi LNG dalam waktu sekitar lima menit dan mencapai kapasitas penuh dalam 10 menit. Karakter modular dan operasional yang cepat menjadikan instalasi ini cocok untuk kawasan industri maupun pelabuhan kecil tanpa memerlukan infrastruktur besar.

