Indonesia Siapkan Diri Jadi Pemimpin Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi
Pajak.com, Jakarta – Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) optimistis Indonesia menjadi pionir dalam pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Menurutnya, proyek ini akan membuka pasar besar bagi industri baterai dalam negeri sekaligus menarik arus investasi berskala global.
Bahlil memaparkan, salah satu langkah nyata yang tengah berjalan adalah kolaborasi antara Huayou, Antam, dan Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan nilai investasi sekitar 8 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Ia optimistis, pada akhir 2027 seluruh fasilitas sudah beroperasi penuh sehingga Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang memiliki ekosistem baterai mobil listrik lengkap.
“Huayou sebentar lagi akan jalan dengan Antam dan IBC. Total investasi sekitar 8 miliar dolar AS. Nah, kalau ini semua jadi, kita targetkan 2027 akhir, ini semua sudah jadi. Maka, Indonesia akan menjadi salah satu negara pertama yang membangun ekosistem baterai mobil yang terintegrasi dari hulu sampai hilir,” ujar Bahlil di Jakarta, dikutip Pajak.com pada Sabtu (9/8/25).
Program ini selaras dengan target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 serta arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat hilirisasi dan pengembangan industri mobil listrik. Pemerintah juga menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt, yang diproyeksikan menjadi pasar besar bagi baterai produksi lokal.
Bahlil menegaskan bahwa seluruh baterai untuk kebutuhan listrik di dalam negeri harus menggunakan produk Indonesia. “Dan kita minta baterai-baterai untuk listrik ini semua harus memakai produk Indonesia. Ini market besar. Dan ini akan mendorong untuk bagaimana ketersediaan listrik bagi Koperasi Merah Putih. Karena kita akan pakai track listrik. Kita akan pakai motor listrik. Dan ini sekaligus untuk mendorong transisi energi dan kedaulatan energi,” tegasnya.
Menurut Bahlil, kelengkapan sumber daya alam, kesiapan infrastruktur industri, dan ketersediaan energi terbarukan menjadikan Indonesia destinasi strategis bagi investor.
“Tidak ada alasan, menurut saya, untuk tidak melakukan investasi yang efisien di negara Indonesia. Market-nya ada, bahan bakunya ada, ekosistemnya sudah ada, energi baru terbarukannya sudah ada,” tuturnya.
Ia menambahkan, hilirisasi menjadi program unggulan yang akan memacu pertumbuhan ekonomi hingga target 8 persen pada 2029. Selain itu, hilirisasi juga disebut akan mendorong penciptaan lapangan pekerjaan, yang menuju pada pemerataan kawasan ekonomi dan meningkatkan pendapatan negara.

