Menu
in ,

Realisasi Investasi Hilirisasi RI Tembus Rp150,6 Triliun, Naik 64,6 Persen pada Kuartal III-2025

foto : ist

Realisasi Investasi Hilirisasi RI Tembus Rp150,6 Triliun, Naik 64,6 Persen pada Kuartal III-2025

Pajak.com, Jakarta – Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sektor hilirisasi Indonesia mencapai Rp150,6 triliun pada Kuartal III-2025. Nilai tersebut tumbuh 64,6 persen secara tahunan (year on year/yoy), sekaligus menyumbang 30,6 persen dari total realisasi investasi nasional pada kuartal III-2025 yang sebesar Rp491,4 triliun.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menegaskan bahwa peningkatan investasi hilirisasi menunjukkan hasil nyata dari kebijakan pemerintah dalam memperkuat industri bernilai tambah di dalam negeri.

“Kalau kita lihat memang kontribusinya ini secara perlahan meningkat. Kalau dulu masih di level 25 persen–26 persen dari total investasi yang masuk, sekarang dari sektor hilirisasi itu sudah mencapai 30 bahkan 34,6 persen. Jadi program yang dicanangkan oleh pemerintah ternyata memang memberikan dampak yang positif, terutama dari investasi yang masuk,” ujar Rosan dalam konferensi pers yang dipantau Pajak.com pada Jumat (17/10/25).

Dari total nilai investasi hilirisasi tersebut, sektor mineral menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp97,8 triliun. Rinciannya meliputi nikel Rp42 triliun, tembaga Rp21,2 triliun, bauksit Rp15,6 triliun, besi baja Rp9,5 triliun, timah Rp1,5 triliun, dan lainnya Rp8 triliun. Komoditas lain dalam kategori ini mencakup pasir silika, emas, perak, kobalt, mangan, batubara, aspal buton, dan logam tanah jarang.

Rosan menyebut dominasi nikel sebagai hal yang wajar mengingat Indonesia memiliki cadangan terbesar di dunia.

“Tetap memang masih didominasi oleh mineral atau dalam hal ini adalah nikel. Ya karena obviously kita juga memang penghasil reserve kita terbesar untuk nikel itu kurang lebih 42 persen. Jadi memang very significant reserve kita dan bagaimana kita mempergunakan reserve kita ini secara berkelanjutan dan syarat program-programnya terutama adalah EV battery, electric nickel battery,” jelasnya.

Rosan menambahkan, ekosistem industri baterai kendaraan listrik di Indonesia telah terbentuk dari hulu ke hilir, mulai dari tambang nikel, pengolahan bahan baku, hingga recycle battery.

“Yang dimana kita ketahui bahwa nikel adalah salah satu komponen pertama dari penciptaan nickel battery. Jadi alhamdulillah di Indonesia ini sudah ada ekosistem yang penuh, dari tambang nikel sampai dengan EV battery sendiri, itu termasuk juga recycle battery yang juga ada di Indonesia,” lanjutnya.

Selain mineral, sektor perkebunan dan kehutanan juga mencatatkan realisasi signifikan senilai Rp35,9 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari kelapa sawit Rp22,1 triliun, disusul kayu log Rp11,7 triliun, karet Rp1,6 triliun, dan lainnya Rp1,6 triliun. Komoditas lain dalam sektor ini meliputi pala, kelapa, kakao, dan biofuel.

Selain itu, investasi di sektor minyak dan gas bumi mencapai Rp15,4 triliun, dengan rincian minyak bumi Rp10,4 triliun dan gas bumi Rp5 triliun. Sementara itu, sektor perikanan dan kelautan mencatat realisasi Rp1,5 triliun, yang mencakup komoditas seperti garam, ikan TCT (tuna, cakalang, tongkol), udang, rumput laut, rajungan, dan tilapia.

“Dari perkebunan, kehutanan yang potensinya ini sangat-sangat luar biasa, dan kita terus berkolaborasi dengan baik dengan kementerian lain, badan usaha lain, dengan private sector dalam langkah pengembangan program hilirisasi,” ungkapnya.

Dari sisi lokasi, Sulawesi Tengah menjadi daerah dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar, mencapai Rp28,7 triliun atau 19,1 persen dari total nasional. Disusul Jawa Barat (Rp15 triliun atau 10 persen), Maluku Utara (Rp14,3 triliun atau 9,5 persen), Nusa Tenggara Barat (Rp14,1 triliun atau 9,3 persen), dan Jawa Timur (Rp9,8 triliun atau 6,5 persen).

Leave a Reply

Exit mobile version