Menu
in ,

Realisasi Investasi Indonesia Capai Rp1.931,2 Triliun pada 2025, 101,3 Persen dari Target

Realisasi Investasi Indonesia Capai Rp1.931,2 Triliun pada 2025, 101,3 Persen dari Target

Pajak.com, Jakarta – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat bahwa realisasi investasi Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun atau setara dengan 101,3 persen dari target Rp1.905,6 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan bahwa capaian tersebut tumbuh 12,7 persen secara tahunan dan menunjukkan kinerja investasi nasional tetap solid di tengah dinamika ekonomi global. Menurutnya, realisasi investasi tersebut juga turut mendorong penyerapan tenaga kerja Indonesia sebanyak 2.710.532 orang, meningkat 10,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Hasil realisasi investasi Januari-Desember 2025 dari target sebesar tadi Rp1.905,6 triliun, alhamdulillah tercapai Rp1.931,2 triliun, tadi saya sudah sampaikan di awal, dan peningkatan 12,7 persen, jadi di tengah tantangan dunia yang penuh tidak kepastian, alhamdulillah investasi yang masuk ke Indonesia ini terus terjaga, baik dari dalam maupun dari luar negeri,” kata Rosan dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com pada Jumat (16/1/26).

Berdasarkan sebaran wilayah, investasi di luar Jawa masih mendominasi dengan porsi 51,3 persen atau sebesar Rp991,2 triliun, tumbuh 10,7 persen secara tahunan. Sementara itu, realisasi investasi di Jawa mencapai Rp940,0 triliun atau 48,7 persen dengan pertumbuhan 14,8 persen secara tahunan.

Berdasarkan sumber investasi, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencatatkan realisasi Rp1.030,3 triliun atau 53,4 persen dari total investasi, tumbuh signifikan 26,6 persen secara tahunan. Adapun Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp900,9 triliun atau 46,6 persen, dengan pertumbuhan 0,1 persen secara tahunan.

Untuk lokasi investasi PMA dan PMDN terbesar sepanjang 2025, Jawa Barat menempati posisi pertama dengan realisasi Rp296,8 triliun atau 15,4 persen. Posisi kedua ditempati DKI Jakarta sebesar Rp270,9 triliun atau 14,0 persen, diikuti Jawa Timur Rp145,1 triliun atau 7,5 persen, Banten Rp130,2 triliun atau 6,7 persen, serta Sulawesi Tengah Rp127,2 triliun atau 6,6 persen.

Khusus PMA, lima provinsi tujuan utama investasi asing adalah Jawa Barat sebesar 9,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau 16,3 persen, Sulawesi Tengah 7,4 miliar dolar AS atau 13,2 persen, DKI Jakarta 6,0 miliar dolar AS atau 10,6 persen, Maluku Utara 5,2 miliar dolar AS atau 9,2 persen, serta Banten 3,6 miliar dolar AS atau 6,3 persen.

Sementara itu, realisasi PMDN terbesar tercatat di DKI Jakarta sebesar Rp175,3 triliun atau 17,0 persen, disusul Jawa Barat Rp149,8 triliun atau 14,5 persen, Jawa Timur Rp101,8 triliun atau 9,9 persen, Banten Rp73,2 triliun atau 7,1 persen, dan Kalimantan Timur Rp70,9 triliun atau 6,9 persen.

Ditinjau dari subsektor, realisasi PMA dan PMDN sepanjang 2025 didominasi industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya sebesar Rp262,0 triliun atau 13,6 persen. Selanjutnya subsektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi Rp211,0 triliun atau 10,9 persen, pertambangan Rp199,6 triliun atau 10,3 persen, jasa lainnya Rp170,5 triliun atau 8,8 persen, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp140,4 triliun atau 7,3 persen. Adapun subsektor lainnya berkontribusi 53,2 persen.

Pada PMA, subsektor terbesar adalah industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya sebesar 14,6 miliar dolar AS atau 26,0 persen. Disusul pertambangan 4,7 miliar dolar AS atau 8,4 persen, jasa lainnya 4,5 miliar dolar AS atau 8,0 persen, industri kimia dan farmasi 3,8 miliar dolar AS atau 6,8 persen, serta transportasi, gudang, dan telekomunikasi 3,3 miliar dolar AS atau 5,8 persen.

Untuk PMDN, subsektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi menjadi yang terbesar dengan realisasi Rp158,6 triliun atau 15,4 persen. Berikutnya pertambangan Rp123,8 triliun atau 12,0 persen, perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp99,6 triliun atau 9,7 persen, jasa lainnya Rp98,6 triliun atau 9,6 persen, serta perdagangan dan reparasi Rp92,9 triliun atau 9,0 persen.

Dari sisi negara asal PMA, Singapura masih menjadi investor terbesar dengan nilai investasi 17,4 miliar dolar AS. Posisi berikutnya ditempati Hongkong, RRT sebesar 10,6 miliar dolar AS, R. R. Tiongkok 7,5 miliar dolar AS, Malaysia 4,5 miliar dolar AS, dan Jepang 3,1 miliar dolar AS.

Leave a Reply

Exit mobile version