Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran, Menperin Ungkap Sederet Tantangan di Sektor Industri
Pajak.com, Jakarta – Genap satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan sejumlah tantangan yang tengah dihadapi sektor industri nasional.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan bahwa dinamika global dan tekanan domestik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja industri dalam negeri.
“Selama satu tahun ini, sektor industri menghadapi berbagai tantangan, baik itu dari faktor internal dan eksternal. Oleh karena itu, kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kemampuan industrialisasi dalam negeri guna mencapai ketangguhan ekonomi nasional,” kata Agus dalam konferensi pers bertajuk 1 Tahun Kinerja Industri Kabinet Merah Putih, di Jakarta, dikutip Pajak.com pada Selasa (21/10/25).
Agus menjelaskan, salah satu tantangan terbesar adalah membanjirnya produk impor murah, baik yang masuk secara legal maupun ilegal, ke pasar domestik. Kondisi ini menekan daya saing industri nasional, terutama sektor-sektor padat karya.
Selain itu, produk dari Kawasan Berikat (KB) yang seharusnya diekspor justru dijual di pasar dalam negeri, sehingga mengganggu persaingan usaha dan distribusi pasar nasional.
Tak hanya itu, gejolak global juga turut memengaruhi performa industri Indonesia. Konflik Rusia–Ukraina serta Iran–Israel memicu ketidakstabilan rantai pasok, lonjakan harga energi, hingga perlambatan ekspor. Sementara di dalam negeri, rantai pasok industri terganggu oleh kebijakan kuota dan kenaikan harga gas yang menambah beban produksi.
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah meningkatnya tekanan terhadap kebijakan perlindungan industri nasional. Padahal, 80 persen produk manufaktur Indonesia diserap oleh pasar domestik. Menurut Agus, kebijakan proteksi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan 19,6 juta tenaga kerja dan investasi yang telah tertanam di sektor tersebut.
“Kami menindaklanjuti arahan bapak presiden dengan fokus pada empat hal, yaitu melindungi industri nasional dari tekanan impor, menjaga dan meningkatkan utilisasi produksi, melindungi pekerja serta investasi, serta memperkuat teknologi produksi untuk meningkatkan daya saing di pasar domestik dan global,” ungkap Agus.
Melalui strategi tersebut, sektor industri manufaktur tetap menunjukkan ketahanan dan kinerja positif di tengah tekanan ekonomi global. Agus menegaskan, sektor ini masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional berkat kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Pada Kuartal IV 2024 hingga Kuartal II-2025, sektor Industri Pengolahan Nonmigas (IPNM) tumbuh sebesar 4,94 persen year on year dan memberikan kontribusi 17,24 persen terhadap PDB nasional. Angka ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur masih menjadi penggerak utama ekonomi nasional,” jelasnya.
Dari sisi ekspor, sektor manufaktur Indonesia juga terus menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global. Selama periode Oktober 2024 hingga Agustus 2025, nilai ekspor IPNM mencapai 202,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS), atau 78,75 persen dari total ekspor nasional senilai 257,6 miliar dolar AS.
“Kontribusi ekspor manufaktur ini menjadi bukti bahwa produk industri Indonesia semakin kompetitif di pasar global,” tambah Agus.
Selain ekspor yang solid, kepercayaan investor terhadap sektor industri nasional juga tetap tinggi. Realisasi investasi industri manufaktur tercatat mencapai Rp568,4 triliun pada periode Oktober 2024 hingga Juni 2025, atau setara 40,72 persen dari total investasi nasional. Pertumbuhan investasi ini turut berdampak positif pada penciptaan lapangan kerja baru.
Hingga Februari 2025, sektor IPNM telah menyerap 19,55 juta tenaga kerja atau 13,41 persen dari total tenaga kerja nasional. Dengan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi, ekspor, dan lapangan kerja, Agus menegaskan bahwa sektor industri akan terus menjadi prioritas utama dalam memperkuat struktur ekonomi Indonesia yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing tinggi di kancah global.

