Pertamina Patra Niaga Pionir Pasarkan Bahan Bakar Penerbangan Ramah Lingkungan dari Minyak Jelantah
Pajak.com, Cilacap — PT Pertamina Patra Niaga menegaskan kesiapannya memasarkan dan menyalurkan Sustainable Aviation Fuel (SAF) setelah melakukan lifting perdana di Kilang Pertamina Cilacap, Jawa Tengah pada Selasa (12/8/2025). SAF yang diproduksi dari minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) ini diklaim sebagai bahan bakar rendah emisi untuk mendukung transisi energi sektor penerbangan nasional.
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan menilai keberhasilan mengolah minyak jelantah menjadi bahan bakar ramah lingkungan adalah lompatan penting. “Ini adalah karya luar biasa anak bangsa yang membuktikan bahwa kita mampu membuat terobosan besar. Kita mampu menjadi pelopor di Asia Tenggara,” ujarnya dikutip Pajak.com, Rabu (13/8/2025).
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menambahkan, produksi SAF dalam negeri menjadi bukti kemampuan teknologi Pertamina yang kompetitif di tingkat global. “Persentase minyak nabati dan minyak jelantah yang kami gunakan menjadi yang tertinggi dibanding teknologi serupa di dunia,” jelasnya.
Oki mengemukakan, pencapaian ini melibatkan ekosistem luas mulai dari pengumpulan UCO oleh Pertamina Patra Niaga, pengolahan di Kilang Pertamina Internasional, distribusi oleh Pertamina Patra Niaga, hingga pemanfaatan oleh maskapai nasional seperti Pelita Air Service. Ke depan, Oki memastikan kalau pemakaian SAF akan diperluas di ekosistem aviasi Indonesia.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra mengatakan, pihaknya telah menyiapkan jaringan pemasaran dan penyaluran SAF. Produk ini telah mengantongi sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk skema CORSIA serta Renewable Energy Directive-European Union (RED-EU).
Dengan sertifikasi ISCC CORSIA ini, Pertamina Patra Niaga tercatat sebagai pemasok dan pengelola SAF pertama di Asia Tenggara. Mars Ega meyakini, pencapaian ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam mendorong transformasi menuju energi bersih, mendukung target net zero emission 2060, serta sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs) dan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis Pertamina.
“Penggunaan akan dimulai oleh Pelita Air, sementara ketersediaan produk juga telah disiapkan oleh Kilang Pertamina Internasional,” kata Mars Ega.
Ia menegaskan, program ini dijalankan dengan mengacu pada konsep Triple Bottom Line, yang terdiri dari unsur people, planet, profit. Bahan baku SAF berasal dari masyarakat, sehingga Pertamina Patra Niaga mengajak publik berkontribusi mengumpulkan minyak jelantah.
“Manfaatnya akan dirasakan luas, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi,” imbuhnya.
Pertamina Patra Niaga juga memperluas ekosistem pengumpulan UCO berbasis ekonomi sirkular. Melalui program yang terintegrasi dengan aplikasi MyPertamina dan titik pengumpulan di lokasi strategis, masyarakat diajak menjadi bagian rantai pasok energi bersih. Adapun minyak jelantah tersebut dikumpulkan lewat dua jalur yaitu ritel (rumah tangga) dan kemitraan industri atau asosiasi.
Sejak diluncurkan pada Desember 2024 hingga Juli 2025, lanjut Mars Ega, program ini berhasil mengumpulkan lebih dari 86 ribu liter minyak jelantah rumah tangga dengan melibatkan 2.443 warga di 10 lokasi. Titik pengumpulan mencakup SPBU COCO MT Haryono, SPBU COCO Kalimalang, Rumah Sakit (RS) Pelni, RS Pusat Pertamina, Kantor Pertamina Patra Niaga, SPBU COCO BSD City, SPBU COCO Dago Bandung, SPBU COCO Semarang, Pertamina Coop Mart Plaju, serta Sport Centre Plaju.
Ke depan, jaringan pengumpulan akan diperluas hingga ke lembaga penyalur Pertamina Patra Niaga, fasilitas milik entitas Pertamina Group seperti IHC dan Patra Jasa, serta program pemberdayaan masyarakat.
“Pendekatan ini adalah model ekonomi sirkular di sektor energi. Minyak jelantah yang biasanya dibuang bisa diubah menjadi bahan bakar penerbangan rendah emisi. Siklus ini menguntungkan masyarakat, mengurangi limbah, dan mendukung transisi energi,” pungkas Mars Ega.

