Wamenkeu Klaim APBN Tangguh Hadapi Gejolak Global
Pajak.com, Jakarta – Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dirancang tangguh untuk menghadapi gejolak global, termasuk eskalasi geopolitik yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan tekanan di pasar keuangan.
Juda menjelaskan bahwa APBN didesain dengan tiga prinsip utama, yakni prudent, disiplin, dan fleksibel.
“APBN kita itu memang didesain pertama, prinsip pruden. Kemudian disiplin. Ketiga, fleksibel. Pruden dan disiplin, kita memastikan bahwa defisit kita di bawah 3 persen. Debt to GDP ratio sekitar 40 persen. Masih jauh lebih rendah dari di undang-undang 60 persen,” kata Juda dalam Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta, dikutip Pajak.com pada Rabu (4/3/2026).
Ia menekankan bahwa fleksibilitas menjadi kunci dalam merespons dinamika global. Dengan adanya cadangan fiskal, pemerintah memiliki ruang untuk meredam dampak guncangan eksternal baik dari sisi belanja maupun penerimaan negara.
“Fleksibel artinya termasuk jika terjadi shock yang bersumber dari global. Maka ada buffer, ada cadangan fiskal yang dapat digunakan untuk memberikan bantalan terhadap gejolak-gejolak itu,” ujarnya.
Terkait risiko kenaikan harga minyak dan potensi pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Kementerian Keuangan secara rutin melakukan stress test terhadap berbagai skenario global. Bahkan dalam nota keuangan, pemerintah telah mencantumkan analisis sensitivitas terhadap indikator makro utama.
Juda memaparkan bahwa setiap kenaikan 1 dolar AS pada Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi menambah defisit sekitar Rp6,8 triliun. Sementara pelemahan Rp100 terhadap dolar AS berdampak sekitar Rp0,8 triliun terhadap defisit, dan kenaikan yield 0,1 persen berpotensi menambah beban sekitar Rp1,9 triliun. Meski demikian, hasil simulasi menunjukkan kondisi fiskal tetap terjaga.
“Stress-test yang kami lakukan pada skenario yang cukup plausible itu menunjukkan bahwa defisit masih terjaga di bawah 3 persen, debt over GDP juga masih terjaga,” ujar Wamenkeu.
Dari sisi pembiayaan, pemerintah juga terus melakukan diversifikasi sumber pendanaan guna memperkuat ketahanan fiskal. Jika sebelumnya pembiayaan global didominasi dolar AS, kini pemerintah memperluas basis investor dan mata uang penerbitan surat utang.
“Minggu lalu kami, Kemenkeu baru saja menerbitkan global bonds sejumlah 4,5 miliar dolar AS equivalent tapi dalam mata uang Euro dan Renminbi. Dan itu harganya masih sangat bagus, yield-nya masih sangat bagus. Untuk Renminbi antara 2-3 persen dan untuk Euro itu 4-5 persen. Ini ukurannya ini masih sangat bagus sekali untuk pasar global kita,” katanya.
Selain pembiayaan, strategi penguatan struktur ekonomi juga dilakukan melalui pengelolaan investasi. Pemerintah kini memperkuat peran entitas baru, Danantara, dalam mendukung investasi nasional.
“Danantara ini sekarang memiliki peran yang penting. Kalau dulu investasi yang dilakukan oleh pemerintah akhirnya masuk di APBN, sekarang kan ada di Danantara. Danantara sekarang part of macroeconomic management dari Indonesia,” jelasnya.
Ia menambahkan, belanja APBN saat ini lebih difokuskan pada konsumsi pemerintah dan penguatan kesejahteraan masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah. Sementara pembiayaan investasi semakin banyak dilakukan melalui Danantara serta dukungan investasi luar negeri.

