Di Tengah Meningkatnya Tensi Geopolitik Global, Airlangga Optimistis Ekonomi RI Tumbuh 5,4 Persen pada 2026
Pajak.com, Jakarta – Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan perlambatan ekonomi dunia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tetap optimistis perekonomian Indonesia mampu tumbuh sebesar 5,4 persen pada 2026. Optimisme tersebut ditopang fundamental ekonomi yang kuat, kebijakan fiskal yang kredibel, serta berlanjutnya agenda reformasi struktural pemerintah.
Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat arah kebijakan perekonomian nasional guna menjaga stabilitas sekaligus meningkatkan kualitas pertumbuhan di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. Berbagai tekanan eksternal, mulai dari fragmentasi perdagangan global hingga perlambatan ekonomi dunia, menuntut kebijakan yang adaptif, konsisten, dan berorientasi jangka menengah–panjang agar momentum pertumbuhan nasional tetap terjaga.
“Saya rasa di tengah ketidakpastian global yang berasal dari perlambatan ekonomi dan peningkatan tensi geopolitik, ekonomi Indonesia tetap resilien dengan tingkat risiko resesi relatif rendah, berdasarkan Bloomberg, dibandingkan dengan AS, China, dan Jepang,” ujar Airlangga dalam forum IBC Business Outlook 2026, dikutip Pajak.com pada Senin (19/1/26).
Dalam paparannya, Airlangga menyampaikan bahwa selama tujuh tahun terakhir Indonesia secara konsisten mencatat pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen. Capaian tersebut mencerminkan akumulasi pertumbuhan ekonomi nasional hingga sekitar 35 persen. Stabilitas makroekonomi juga tetap terjaga, tercermin dari inflasi Desember 2025 yang berada pada level 2,92 persen.
Kinerja pasar keuangan menunjukkan tren positif dengan indeks saham yang terus mencetak rekor, nilai tukar rupiah yang relatif stabil, serta aktivitas sektor riil yang tetap ekspansif. Kondisi ini tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur sebesar 51,2 dan indeks kepercayaan konsumen yang meningkat ke level 123,5. Dari sisi eksternal, posisi ekonomi Indonesia tetap solid, ditopang surplus neraca perdagangan serta cadangan devisa yang mencapai 156,1 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Dari sisi pembiayaan dan investasi, pertumbuhan kredit perbankan tetap terjaga mendekati 8 persen. Sementara itu, realisasi penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI) menunjukkan tren peningkatan, yang mencerminkan kepercayaan global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia dan prospek pertumbuhan jangka panjang.
Airlangga menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen kebijakan yang kredibel dan bertanggung jawab. Defisit APBN 2025 dijaga di bawah 3 persen, dengan rasio utang yang tetap terkendali. Untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional, pemerintah juga telah menyiapkan paket stimulus ekonomi sepanjang 2025 dengan nilai total Rp110,7 triliun.
Memasuki 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4 persen. Target tersebut didukung oleh penguatan sektor riil, paket kebijakan ekonomi, serta delapan program prioritas nasional.
Fokus utama diarahkan pada penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi, serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang diharapkan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja baru setiap tahunnya.
Selain itu, APBN juga diarahkan untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan, perlindungan sosial, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja. Pemerintah menyiapkan berbagai program peningkatan produktivitas, termasuk program magang bagi lulusan baru, pelatihan tenaga kerja, serta fasilitasi penempatan tenaga kerja ke luar negeri di sektor-sektor strategis.
Di tengah percepatan transformasi digital, Indonesia juga terus mendorong penguatan ekonomi digital kawasan melalui inisiatif ASEAN Digital Economy Framework Agreement. Pemerintah memperluas sistem pembayaran digital QRIS secara regional dan internasional sebagai bagian dari upaya memperkuat inklusi keuangan dan literasi digital masyarakat.
Pemerintah juga terus memperbaiki iklim investasi melalui penyederhanaan regulasi dan percepatan pelaksanaan program strategis nasional. Sejumlah sektor padat karya, seperti industri tekstil, elektronik, dan manufaktur berorientasi ekspor, menjadi perhatian utama untuk menjaga daya saing dan melindungi jutaan tenaga kerja nasional di tengah dinamika perdagangan global.
Menutup paparannya, Airlangga mengajak seluruh pelaku usaha dan pemangku kepentingan untuk tetap optimistis terhadap prospek perekonomian Indonesia ke depan. Dengan fundamental ekonomi yang dinilai kuat serta dukungan tren global yang masih positif, pemerintah meyakini stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional dapat terus terjaga.
“Jadi, menghadapi periode mendatang, saya pikir kita harus optimistis, akan ada banyak berita baik. Dan saya yakin, tren global, termasuk IMF, juga optimis pada ekonomi Indonesia,” pungkas Airlangga.

