Menu
in ,

SMF: “Backlog” Turun jadi 9,6 Juta, Rumah Tak Layak Huni Tembus 23,4 Juta pada 2025

Foto: Nadia Amila

SMF: “Backlog” Turun jadi 9,6 Juta, Rumah Tak Layak Huni Tembus 23,4 Juta pada 2025

Pajak.com, Jakarta – PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) (SMF) mencatat backlog kepemilikan rumah di Indonesia turun menjadi 9,6 juta pada 2025, dari sebelumnya 9,9 juta pada tahun 2024. Namun di saat yang sama, jumlah rumah tangga yang tinggal di rumah tidak layak huni juga menurun menjadi 23,4 juta dari sebelumnya 25 juta rumah tangga.

Kepala Divisi Riset Ekonomi PT SMF Martin D Siyaranamual menjelaskan bahwa penurunan backlog tersebut belum sepenuhnya dapat disimpulkan sebagai keberhasilan menyeluruh program perumahan nasional.

“Iya dan tidak. Karena memang belum ada, belum dilihat secara detail. Keberhasilan dari program-program perumahan yang ada di Indonesia,” ujar Martin dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com pada Kamis (5/3/2026).

Meski demikian, Martin menegaskan bahwa penurunan backlog tidak bisa dilepaskan dari kontribusi program pemerintah di sektor perumahan. “Tetapi yang jelas, sudah tentu penurunan ini, sumbernya itu datangnya dari program pemerintah. Kita enggak bisa menolak itu. Enggak bisa,” tegasnya.

Dari total backlog kepemilikan 9,6 juta rumah tangga, terdiri atas 5.505.304 rumah tangga atau sekitar 7,4 persen yang tinggal di rumah bukan milik sendiri dan dalam kondisi layak huni, serta 4.131.853 rumah tangga sekitar 5,6 persen yang tinggal di rumah bukan milik sendiri dan tidak layak huni.

Sementara itu, backlog kelayakan hunian sebesar 23,4 juta rumah tangga mencakup 19.289.798 rumah tangga atau sekitar 26,0 persen yang tinggal di rumah milik sendiri namun tidak layak huni, serta 4.131.853 rumah tangga sekitar 5,6 persen yang tinggal di rumah bukan milik sendiri dan tidak layak huni.

Ia juga mengingatkan bahwa angka backlog kepemilikan dan backlog kelayakan hunian tidak bisa dijumlahkan secara langsung karena terdapat proses pemilahan data di dalamnya.

“Jadi enggak bisa tuh, ngegabungin begitu aja. Oh berarti 9,6 ditambah 23,4. Enggak boleh kayak gitu. Itu ada proses pemilahannya,” jelas Martin.

Berdasarkan klasifikasi status ekonomi rumah tangga, backlog kepemilikan 9,6 juta atau sekitar 13,0 persen tersebar pada beberapa kelompok. Pada kelompok kelas atas terdapat 0,4 juta rumah tangga. Pada kelas menengah sebanyak 1,6 juta rumah tangga atau sekitar 11,1 persen dari total kelas menengah.

Kelompok calon kelas menengah (aspiring middle) menyumbang 5,1 juta rumah tangga atau sekitar 13,4 persen dari total kelompok tersebut. Sementara pada kelompok rentan terdapat 2,2 juta rumah tangga atau sekitar 13,9 persen, dan pada kelompok miskin sebanyak 0,7 juta rumah tangga atau sekitar 13,2 persen.

Untuk rumah tidak layak huni sebanyak 23,4 juta atau sekitar 31,6 persen, distribusinya juga terkonsentrasi pada kelompok rentan dan miskin. Pada kelas atas terdapat 0,04 juta rumah tangga atau sekitar 10,3 persen dari total kelas atas. Pada kelas menengah terdapat 3,0 juta rumah tangga atau sekitar 20,1 persen.

Pada kelompok calon kelas menengah terdapat 11,7 juta rumah tangga atau sekitar 30,6 persen. Kelompok rentan tercatat sebanyak 6,2 juta rumah tangga atau sekitar 39,4 persen, sedangkan kelompok miskin mencapai 2,5 juta rumah tangga atau sekitar 49,7 persen dari total kelompok miskin.

Leave a Reply

Exit mobile version