Ini Pengalaman 4 Perusahaan yang Beroperasi di KEK Indonesia
Pajak.com, Jakarta – Sekitar empat perusahaan membeberkan pengalaman dan manfaat beroperasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Indonesia. Hal ini disampaikan mereka dalam diskusi SEZ Success Stories yang dipandu oleh Board Member BritCham sekaligus Managing Director & President Director OCS Indonesia Jeffry Johary, pada acara SEZ Business Forum 2025.
Perwakilan PT Hailiang Nova Material Indonesia Ishak Cahyadi sebagai pelaku usaha dari KEK Gresik mengungkapkan bahwa industri energi terbarukan masih sangat baru di Indonesia. Oleh karena itu, PT Hailiang Nova Material Indonesia mendapat manfaat besar dari fasilitas terintegrasi di KEK Gresik, mulai dari keberadaan pelabuhan dalam kawasan hingga kedekatan dengan pemasok bahan baku, seperti Freeport.
“Efisiensi ekspor, kelancaran rantai pasok, dan peluang bertemu pelanggan dalam satu ekosistem hulu-hilir menjadi nilai tambah yang memperkuat daya saing. Memiliki pelabuhan dan rantai pasok yang terintegrasi dalam satu kawasan benar-benar memperkuat daya saing kami, terutama sebagai industri hilir yang berorientasi ekspor,” ungkap Ishak dalam keterangan tertulis, dikutip Pajak.com (23/12/25).
Pada sektor pariwisata, diwakili oleh Direktur Keuangan & Manajemen Risiko Injourney Tourism Development Corporation (ITDC) Ahmad Fajar selaku sebagai pelaku usaha di KEK Mandalika.
Menurut Ahmad Fajar, sektor pariwisata turut memerlihatkan dampak nyata KEK melalui percepatan transformasi kawasan destinasi. Fasilitas yang lebih terstruktur, kepastian regulasi, serta insentif yang kompetitif menciptakan lingkungan yang semakin menarik bagi investor dan memperkuat kepercayaan pelaku industri.
“Status KEK memberi titik balik penting bagi Mandalika. Kepastian regulasi, insentif, dan dukungan pemerintah membuat kawasan ini jauh lebih menarik bagi investor dan memungkinkan kami mendorong percepatan pembangunan secara lebih terarah,” jelas Fajar.
Sementara itu, Business Development Director dari InJourney Hospitality Putri Eka Sukmawati sekaligus selaku pelaku usaha di KEK Sanur menjelaskan mengenai KEK sebagai fondasi penting bagi percepatan pembangunan ekosistem health and wellness tourism di Indonesia.
Ia menekankan bahwa hadirnya brand kesehatan kelas dunia, dokter asing yang diizinkan berpraktik, serta transfer pengetahuan kepada tenaga medis lokal menciptakan standar baru dalam layanan kesehatan nasional.
“KEK Sanur memungkinkan kami menghadirkan brand medis internasional, membuka praktik bagi dokter berkelas dunia, sekaligus memastikan transfer keahlian kepada dokter Indonesia, sebuah kombinasi yang mempercepat terwujudnya destinasi kesehatan berstandar global,” ungkap Putri.
Pengalaman berbeda datang dari PT Matahari Tire Indonesia, selaku perusahaan di KEK Kendal. Perwakilan PT Matahari Tire Indonesia Wu Yuejun menjelaskan bahwa lingkungan operasional yang terintegrasi membuat perusahaan dapat beroperasi lebih efisien dan menjaga stabilitas produksi.
Menurut Wu, berbagai kemudahan yang ada di KEK tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperluas peluang kolaborasi industri di dalam kawasan.
“KEK Kendal memberi kami lingkungan usaha yang stabil, mulai dari fasilitasi pembangunan, kebijakan pajak impor-ekspor, ketersediaan tenaga kerja, hingga akses pelabuhan, serta rantai industri yang komprehensif yang mampu menarik lebih banyak perusahaan hulu maupun hilir untuk memperkuat ekosistem rantai pasok,” jelas Wu.
Pemerintah menilai, keempat pengalaman tersebut menegaskan peran KEK sebagai katalis pertumbuhan, mendorong percepatan industri, efisiensi operasional, dan peluang ekonomi baru. Dari manufaktur hingga pariwisata dan kesehatan, KEK terbukti memberi nilai strategis bagi perusahaan untuk memperkuat daya saing global.
Sesi ditutup dengan penekanan bahwa keberhasilan KEK ke depan membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, pengelola kawasan, dan para tenant untuk menjaga iklim investasi yang kondusif dan memastikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional.

