Menu
in ,

Gubernur BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Capai 3,2 Persen pada 2025

foto : ist

Gubernur BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Capai 3,2 Persen pada 2025

Pajak.com, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2025 akan mencapai sekitar 3,2 persen. Perbaikan kinerja ekonomi global tersebut dinilai terjadi dalam jangka pendek, meski masih dibayangi ketidakpastian yang perlu terus diwaspadai oleh seluruh negara.

Perry menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia pada 2025 didorong oleh membaiknya kinerja sejumlah negara utama. Perekonomian Jepang dan India diprakirakan meningkat, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat serta dukungan kebijakan stimulus fiskal.

“Perekonomian global jangka pendek membaik namun dengan ketidakpastian yang perlu terus diwaspadai. Pertumbuhan ekonomi dunia 2025 diprakirakan menjadi sekitar 3,2 persen,” kata Perry dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com pada Kamis (18/12/25).

Di kawasan Eropa, prospek ekonomi dinilai tetap baik dengan penopang utama berasal dari konsumsi rumah tangga, investasi, serta kondisi ketenagakerjaan yang relatif terjaga.

Sementara itu, perekonomian Amerika Serikat (AS) pada 2025 diprakirakan masih mengalami perlambatan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dampak temporary government shutdown serta pelemahan pasar tenaga kerja. Di sisi lain, prospek ekonomi Tiongkok juga terus melambat akibat permintaan domestik yang masih lemah.

Memasuki 2026, Perry memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia akan melemah menjadi 3,0 persen. Pelemahan ini dipengaruhi oleh dampak lanjutan tarif resiprokal AS serta meningkatnya kerentanan rantai pasok global yang berpotensi menekan aktivitas perdagangan dan investasi internasional.

Dari sisi pasar keuangan global, Perry menyampaikan bahwa Fed Funds Rate (FFR) turun 25 basis poin pada Desember 2025. Namun, ke depan arah penurunan suku bunga acuan AS tersebut diperkirakan akan lebih terbatas. Sejalan dengan itu, tingkat imbal hasil (yield) US Treasury tenor 2 tahun cenderung bergerak naik, sementara yield US Treasury tenor 10 tahun tetap berada di level tinggi.

Kondisi tersebut terjadi seiring dengan tingginya tingkat utang Pemerintah AS. Dampaknya, indeks mata uang AS (DXY) masih berada di level tinggi dan aliran masuk modal asing ke negara emerging market tetap terbatas.

Perry menegaskan bahwa ketidakpastian perekonomian global ke depan diprakirakan masih tinggi dengan prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang relatif lemah. Oleh karena itu, kondisi ini memerlukan kewaspadaan serta penguatan respons kebijakan di dalam negeri guna memperkuat daya tahan ekonomi domestik dari rambatan global, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Leave a Reply

Exit mobile version