Menu
in ,

Kejar Target “Lifting” Minyak 610 Ribu, Ini Jurus ESDM Hadapi Tantangan Produksi

Kejar Target “Lifting” Minyak 610 Ribu, Ini Jurus ESDM Hadapi Tantangan Produksi

Pajak.com, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan sejumlah strategi untuk mengejar target lifting minyak nasional sebesar 610 ribu barel per hari pada 2026, di tengah tantangan penurunan produksi dan gangguan operasional migas.

Bahlil menjelaskan bahwa target lifting tersebut dinilai cukup menantang di tengah kondisi produksi minyak nasional yang menghadapi berbagai kendala teknis. Pemerintah tidak hanya dituntut menjaga capaian produksi tahun sebelumnya, tetapi juga meningkatkan lifting sekitar 5 ribu barel per hari.

Tantangan produksi semakin besar setelah terjadinya insiden kebocoran pipa migas pada awal 2026. Insiden tersebut berdampak pada operasional Blok Rokan di Provinsi Riau, yang merupakan salah satu kontributor utama produksi minyak nasional.

“Izin pimpinan [Komisi XII], kami laporkan bahwa kita di awal tahun ini mengalami ada sedikit musibah kecil di Sumatera, pipa kita bocor yang kehilangan potensi loss kurang lebih sekitar 2 juta barel di awal tahun,” jelas Bahlil dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, dikutip Pajak.com pada Senin (26/1/26).

Meski demikian, Bahlil menyatakan optimistis target lifting minyak nasional pada 2026 tetap dapat tercapai. Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi serta strategi untuk menjaga dan mendorong peningkatan produksi minyak.

Salah satu strategi utama yang ditempuh adalah reaktivasi sumur-sumur tua, termasuk percepatan perizinan puluhan ribu sumur minyak masyarakat agar dapat segera berkontribusi terhadap lifting nasional.

“Bahkan sekarang, untuk 40.000 lebih sumur masyarakat, sebagian izinnya sudah kita keluarkan seperti di Jambi dan Sumatera Selatan, sekarang di Jawa Tengah kita sedang mempercepat proses perizinannya,” tuturnya.

Selain itu, Kementerian ESDM juga mengandalkan optimalisasi teknologi melalui penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR). Teknologi ini telah diterapkan di Blok Rokan yang dikelola Pertamina serta Lapangan Banyu Urip yang dioperasikan Exxonmobil dan terbukti mampu meningkatkan produksi minyak.

“Strategi yang ketiga adalah bagaimana proyek yang Plan of Development [POD] sudah selesai kita juga melakukan percepatan [untuk produksi]. Ini kita sudah panggil dan bicarakan dengan semua Kontraktor Kontrak Kerja Sama [KKKS],” ungkap Bahlil.

Di sisi lain, pemerintah juga berencana menawarkan lebih dari 100 wilayah kerja migas secara serempak dalam waktu dekat. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan target sebelumnya yang dipatok sebanyak 75 wilayah kerja. Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar Kementerian ESDM menggencarkan kegiatan eksplorasi di sektor hulu migas.

Sebagai catatan, capaian lifting minyak nasional pada 2025 tercatat melampaui target yang ditetapkan dalam APBN. Pada 2025, target lifting minyak dipatok sebesar 605 ribu barel per hari.

“Alhamdulillah pimpinan [Komisi XII], kami laporkan bahwa lifting minyak kita pada 2025 sebesar 605,3 ribu barrels per day, artinya target RAPBN 2025 mencapai target ada kelebihan sedikit, itu dari sisi lifting minyak,” ujar Bahlil.

Leave a Reply

Exit mobile version