Menu
in ,

Bahlil Sebut Pabrik Petrokimia Milik Lotte Chemical Bisa Tekan Impor Hingga 1,4 Miliar Dolar AS

FOTO :IST

Bahlil Sebut Pabrik Petrokimia Milik Lotte Chemical Bisa Tekan Impor Hingga 1,4 Miliar Dolar AS

Pajak.com, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa kehadiran pabrik petrokimia New Ethylene Project milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Banten, dapat menekan impor produk petrokimia nasional hingga 1,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) per tahun.

Menurut Bahlil, proyek strategis senilai 3,9 miliar dolar AS ini menjadi tonggak penting dalam upaya pemerintah mempercepat hilirisasi minyak dan gas bumi (migas) serta memperkuat industri berbasis bahan baku dalam negeri.

Bahlil menjelaskan bahwa pabrik petrokimia tersebut diperkirakan mampu menghasilkan nilai hilirisasi hingga 2 miliar dolar AS per tahun. Dari jumlah tersebut, 1,4 miliar dolar AS berasal dari penggantian impor dan 600 juta dolar AS berpotensi menambah ekspor Indonesia.

“Dari total kapasitas produksinya, 70 persen akan dipasarkan di dalam negeri, dan 30 persen di luar negeri. Jadi selama ini kita impor, dengan pabrik ini kita tidak lagi mengimpor secara besar-besaran seperti tahun sebelumnya,” ujar Bahlil saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto meresmikan pabrik petrokimia New Ethylene Project dikutip pajak.com pada Senin (10/11/25).

Fasilitas New Ethylene Project memiliki kapasitas pengolahan naphtha mencapai 3.200 kiloton per tahun (kTA), dengan tambahan bahan baku liquefied petroleum gas (LPG) hingga 50 persen. Dari proses ini dihasilkan berbagai produk hulu seperti ethylene (1.000 kTA), propylene (520 kTA), mixed C4 (320 kTA), pyrolysis gasoline (675 kTA), pyrolysis fuel oil (26 kTA), dan hydrogen (45 kTA).

Sementara itu, dari sisi hilir, pabrik ini menghasilkan high density polyethylene (HDPE) sebanyak 250 kTA, linear low density polyethylene (LLDPE) 200 kTA, polypropylene (PP) 350 kTA, butadiene 140 kTA, raffinate 180 kTA, serta benzene, toluene, dan xylene (BTX) dengan kapasitas total 400 kTA.

Produk-produk petrokimia tersebut menjadi bahan baku utama berbagai industri nasional, seperti pembuatan botol plastik, kabel listrik, bumper kendaraan, alat kesehatan, ban, karet sintetis, pembasmi serangga, hingga cat.

“Hari ini membuktikan bahwa hilirisasi Indonesia tidak hanya kita bangun hilirisasi mineral dan batu bara, tapi juga sudah mulai beranjak ke hilirisasi minyak dan gas bumi,” tegas Bahlil.

Ia menambahkan, keberadaan fasilitas pengolahan turunan migas berskala besar ini diharapkan memperkuat ketersediaan bahan baku petrokimia dalam negeri, mengurangi tekanan pada neraca perdagangan, serta membangun ekosistem industri nasional yang tangguh dan berdaya saing global.

Leave a Reply

Exit mobile version