in

Pekan Inklusi Pajak untuk Membangun Generasi Sadar Pajak

Oleh: Zidni Amaliah Mardlo, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Membangun Budaya Sadar Pajak memang bukan perkara yang mudah. Sadar bukan hanya sekadar mengetahui, lebih dari itu sadar berarti mengerti dan memahami. Melihat kondisi kesadaran pajak masyarakat Indonesia saat ini, bisa dikatakan bahwa kondisi kesadaran pajak masyarakat Indonesia masih rendah. Pada tahun 2017, rasio pajak atau tax ratio Indonesia hanya sebesar 10, 8 persen (berdasarkan data hasil audit BPK tahun 2017). Di wilayah Asia Tenggara, rasio perpajakan Indonesia masih di bawah negara Kamboja, Singapura, Malaysia, dan Filipina. Sedangkan di kancah dunia, rasio pajak Indonesia sebesar 10,8 persen ini masih jauh di bawah standar rasio pajak ideal menurut Bank Dunia (World Bank) yaitu sekitar 15 persen. Rasio pajak merupakan perbandingan atau persentase daripenerimaan perpajakan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara dalam kurun waktu tertentu (satu tahun). Selain rasio pajak yang masih rendah, realisasi penerimaan pajak di Indonesia selama lima tahun terakhir (2012- 2017) tidak pernah mencapai target. Meskipun pada tahun 2017, realisasi penerimaan pajak mengalami pertumbuhan sebesar 4,07 persen (dengan PPh Migas).

Ketidaktercapaian target pajak selama lima tahun terakhir salah satunya disebabkan oleh tingkat kesadaran pajak masyarakat Indonesia yang masih rendah. Sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran pajak masyarakat Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) melaksanakan program Inklusi Kesadaran Pajak pada pendidikan nasional. Pekan kemarin, pada tanggal 5 – 9 November 2018, DJP menyelenggarakan pekan inklusi kesadaran pajak. Pekan Inklusi Kesadaran Pajak merupakan momen bagi DJP untuk mengedukasi generasi penerus bangsa mengenai nilai-nilai kesadaran pajak dan mewujudkan generasi yang sadar pajak. Pekan Inklusi Kesadaran Pajak diisi dengan serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan literasi kesadaran pajak yang dilaksanakan selama sepekan pada jenjang pendidikan sekolah tingkat dasar (SD), sekolah menengah tingkat pertama (SMP), tingkat atas (SMA) hingga tingkat perguruan tinggi (PT). Acara pekan inklusi kesadaran pajak diakhiri dengan kegiatan pajak bertutur secara serentak di seluruh Idnonesia pada tanggal 9 November 2018.

Melalui Inklusi Kesadaran Pajak, DJP berupaya merubah paradigma membayar pajak di masyarakat Indonesia. Dahulu paradigma membayar pajak karena paksaan, kini DJP berupaya merubah paradigma tersebut menjadi bangga membayar pajak sebagai wujud kontribusi untuk negeri. Generasi sadar pajak merupakan generasi yang merasa malu jika tidak melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan benar. Namun, merubah paradigma tersebut bukanlah tugas yang mudah bagi Direktorat Jenderal Pajak. Perlu waktu bertahun-tahun untuk menerapkan nilai-nilai kesadaran pajak dan mewujudkan generasi sadar pajak. DJP sendiri tengah membagi program inklusi kesadaran pajak menjadi tiga masa yaitu masa edukasi yang mulai berlangsung pada tahun 2014 hingga tahun 2030, masa kesadaran yang berlangsung pada tahun 2030 hingga 2045, dan masa kesejahteraan pada tahun 2045 hingga tahun 2060. Pada tahun 2045 nanti diharapkan nilai-nilai kesadaran pajak telah tertanam dalam diri masyarakat Indonesia, pendidikan kesadaran pajak terus berlanjut, aspek pajak sudah saling terhubung antar lembaga pemerintah dan swasta, serta Warga Negara Indonesia melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan baik.

Pahlawan Masa Kini adalah mereka yang mau bergotong royong membangun negeri dengan membayar pajak. Jika dahulu pahlawan adalah mereka yang mengangkat senjata untuk melawan penjajah, kini pahlawan bangsa adalah mereka yang mau membayar pajak dengan jujur. Membayar pajak merupakan wujud kontribusi kita dalam pembangunan negara Indonesia karena 85 persen pendapatan negara berasal dari penerimaan pajak. Sedangkan penerimaan negara nantinya akan digunakan untuk pembiayaan negara dalam membangun infrastruktur untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Mengetahui peran penting pajak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara(APBN), generasi sadar pajak diharapkan akan menjadi Wajib Pajak yang baik dan melaksanakan kewajiban perpajakan sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku. Berapapun kontribusi Anda terhadap negara, tentu akan sangat berguna bagi pembangunan negara Indonesia.

Masyarakat yang sadar pajak ialah masyarakat yang merasa bangga telah membayar pajak karena berarti ia telah berkontribusi langsung kepada negara Indonesia. Janganlah menjadi free rider yang mau tinggal di tanah Indonesia, mau menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada tetapi tidak mau berkontribusi kepada negara.Mari bersama-sama menjadi pahlawan bangsa dengan melaksanakan kewajiban perpajakan dengan benar. Mari bersama-sama menjadi generasi yang sadar pajak, generasi yang mengenal, mengerti, memahami, dan melaksanakan kewajibannya sebagai wajib pajak, karena pajak kita untuk kesejahteraan bersama.(*)

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi di mana penulis bekerja.

Sumber : https://pajak.go.id/artikel/pekan-inklusi-pajak-untuk-membangun-generasi-sadar-pajak

What do you think?

1560 points

Written by pajakdotcom

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Komentar

0 komentar

Kewajiban Pelaporan Perpajakan itu Melekat Penuh kepada Wajib Pajak

Menyigi Peningkatan Kepatuhan Lapor SPT Tahunan Tanpa Tenda